Sebuah perjalanan yang tak direncanakan dan sebenarnya ini adalah rute jalan kaki yang biasa. Bagaimana tidak, berkali-kali aku lewat tempat ini tapi baru sekarang menyadari kalau pagar ini sudah ada sejak 1753.
Benteng atau Fort yang sekarang jadi pagar Rumah Tahanan tersebut merupakan cikal bakal bangunan permanen di kawasan budaya Jetayu kota Pekalongan kalau aku lihat di peta tahun 1790. Bahkan di lukisan serta denah tahun 1753, area tersebut masih berupa tanah kosong dengan sedikit sawah di sebelah barat dan ada sungai serta parit.
Tentulah akan lapang sekali memandang pelabuhan di timur laut sana serta laut jawa di utara. Kamu juga bisa dengan mudah menjelajah Fort Peccalongan ini, mudah saja karena areanya termasuk rapi dengan trotoar.
Di sekitar benteng ada museum batik, kantor pos, atau kuliner Limun oriental yang legendaris itu. Kalau mau makan bakso serta es teh sambil lihatin benteng juga bisa banget. Aku kasih panduan walking tournya di sini:
Akhirnya ke Bogor lagi, ya meski lumayan sering lewat...tapi di akahir 2025 ini kok pas banget dapat kolaborasi kerjaan di kota Bogor untuk eksplorasi sejarah. Melewati jalan-jalan yang dulu sering kulihat dari dalam angkot.
Bogor di 2025 sudah jauh berbeda, trotoar di sepanjang kebun raya yang sangat layak untuk berjalan kaki maupun berlari salah satunya. Pun kawasan Suryakencana yang tak sebecek dulu.
Keruwetan yang dulu kurasakan yang berasal dari pikiranku maupun dari kondisi sekelilingku sudah terurai di kunjunganku yang disambut hujan itu. Betapa syahdunya, berjalan di kota hujan sembari berpayung karena hujan.
Sebuah ketenangan yang harganya mahal. Ini perjalanan yang nampak sederhana, tapi bagiku harus kuabadikan. Inilah video nyaris 40 menit yang merekam 8km acara jalan kakiku menelisik tempat bersejarah di kota hujan.
Rute walking tour sejarah di Cikini biasanya tak akan jauh dari Raden Saleh, namun kali ini aku menjelajah gang demi gang menelusuri jejak Amir Syarifuddin. Tokoh nasional yang bukan pahlawan nasional. Amir adalah pemuda revolusi, sirkelnya M. Yamin di kos-kosan yang sekarang jadi Museum Sumpah Pemuda.
Namanya hidup, Amir ini termasuk yang career path nya unik. Dari pemuda Batak kaya yang sekolah di Belanda, lalu kuliah di Batavia, hingga puncaknya jadi perdana mentri. Ah, tapi tak akan jadi unik jika kita mengabaikan sisi kirinya. Bagaimana dia akhirnya dieksekusi tanpa peradilan.
Yuk, kita saksikan penjelajahan jejak Amir Sjarifuddin di Cikini hingga Harmoni.